KETIKA BAPAK PERGI ... ( kilas balik Alm.Bapak ku..)
oleh Ella Angelluvhluvhan pada 21 September 2012 pukul 15:46 ·
Ingatanku mulai melayang , ketika aku mulai mengetik satu persatu kata-kata yang terlintas di otakku …
Saat itu, malam mulai menjelang. Jam menunjukkan pukul 18.34 pm, ku tutup gerbang depan rumah perlahan-lahan setelah lebih dahulu memasukkan motor yang biasa ku bawa ke kampus, ku parkir dengan hati-hati, perasaan ku kacau, antara gelisah dan takut untuk masuk ke dalam rumah. Aku memberanikan diri mengucapkan salam..
“ Assalamualaikum…” Ucap ku sedikit keras.
Pintu di buka kakakku yang ketiga, kak Abdi. Perasaan ku tidak enak melihat tatapan marah dari sudut matanya yang tajam. Aku segera masuk ke dalam rumah menuju kamar ku. Sekilas, Aku melihat Bapak sedang duduk bersila di sajadahnya, seperti biasa, beliau berdzikir menunggu isya. Aku segera masuk ke kamar . Sekujur tubuhku mulai gemetaran, hatiku bertanya-tanya, Apakah bentakan-bentakan itu akan ku dengar lagi untuk yang kesekian kali nya?. Aku berusaha menenangkan perasaan ku yang berkecamuk . Tidak lama Aku mendengar Ibu memanggiku. Aku membuka pintu kamar takut-takut, Seperti dugaanku Ibu menyuruh ku duduk di sampingnya, wajah Ibu terlihat sedih, Aku merasa bersalah. Ibu memandangku dan bertanya,
“ Mengapa kamu baru pulang sekarang?”
Aku diam. Aku terlalu takut untuk menjawab setiap pertanyaan Ibu. Ketakutanku bertambah melihat tatapan murka kakak ku yang berdiri di dekat pintu. Ingin rasanya menjawab tapi seketika Aku kaget mendengar suara kakak ku yang menyela,
“ Tujuan kamu kuliah apa hanya ingin bermain?? Seberapa bebas nya kamu di luar?? Setiap hari pulang malam!! Mau di cap perempuan apa kamu sama orang-orang ?!”.
Mata ku mulai berkaca-kaca . Sudah ke sekian kalinya selalu dan selalu Aku mendengar umpatan itu, malah yang lebih menyakitkan Tidak jarang ku dengar . Aku menjawab dengan terbata-bata,
“ Aku baru selesai kumpul sebuah organisasi di kampusku, dan Aku langsung pulang ketika acara kumpulnya sudah selesai…”
“ Kamu bisanya cuma membohongi orang tua saja! Apa perlu Aku ceritakan bagaimana nakalnya pergaulanmu selama di luar..??! ”
Aku terkejut dalam diam, Aku menunduk. Alasan-alasanku selalu tidak pernah membantu , cacian –makian mulai ku dengar. Ibu hanya bisa diam, Ibu juga tidak bisa membantah bila Kakak ku sudah marah, menceritakan ini itu, Menceritakan apa yang ada di fikirannya dan apa kata-kata temannya mengenai Aku dan pergaulanku di luar, Bermain-main di pantai bersama teman-teman selama jam kuliah. Aku tidak mengerti , yang di katakan kakak ku sepenuhnya tidak benar. Itu sudah fitnah yang benar-benar juga membuat ku emosi. Aku membela diri menjawab sambil memandang bapak,
“ Itu fitnah pak, Aku tidak se bebas itu! Kalau bapak tidak percaya , Bapak bisa memanggil teman kak Abdi sekarang di depan saya pak, sekali lagi untuk member itahu kebenaran cerita kak abdi ! Saya ingin melihat setegas apa orang itu mengumbar cerita tentang ku bapak,,?”
Mataku berkaca-kaca , Aku mulai menangis. Kakak ku hanya bisa menggerutu tidak jelas.
Bapak mulai bicara, Bapak mulai membelaku, Bapak percaya padaku,Tetapi tidak sepenuhnya menunjukkan pembelaannya karena di satu sisi Aku memang bersalah, Ya.. Aku memang salah , Aku tidak bisa mrmbagi waktu ku, Aku selalu lupa waktu, Ketika selesai Jam kuliah, Aku menyanggupi permintaan teman untuk minum-minum es, bercanda, diskusi kumpul organisasi, Yang pada akhir nya ba’dha maghrib terdengar Aku pulang dan sampai rumah ketika hari mulai gelap. Kakak ku yang selalu marah , mengancam menyuruh Ibu memberhentikan ku kuliah, Menyita Hp ku, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa, Hanya Bapak yang sering membelaku, Bapak percaya padaku, karena, Masa-masa ku yang sekarang yang tidak bisa terkontrol dan bebas, Tetapi, Bapak tidak sepenuh nya membela, Bapak juga menasihati, memarahi kalau Aku memang benar salah, Tetapi Aku sayang bapak, Karena Bapak jarang sekali marah dan selalu membela ku.
Sebulan telah berlalu sejak terakhir kali Kakak memarahi Aku. Sudah beberapa hari ini Bapak sakit, tubuh nya begitu lemah, Bapak lebih sering diam dan merenung. Entah apa yang di pikirkannya.
Hari berganti bulan. Berbulan-bulan lama nya Bapak sakit, tubuh nya semakin kurus dan payah. Bapak memang sakit-sakitan. Tetapi, tumben se lama ini Bapak sakit, Dokter pun hanya bisa membantu , tetapi tidak membuat Bapak sembuh. Kadang-kadang air mata tidak mampu ku bendung saat dalam kesendirian ku menjalani hari-hari sepi ku, Menatap wajah Bapak yang letih, membuat ku selalu menangis sendirian.. Kondisi Bapak begitu memprihatinkan, Diabetes yang menyerangnya begitu membuatnya sangat menderita, Bapak begitu lemah,Bahkan untuk berdiri harus di bantu. Dalam sakitnya Bapak tetap tersenyum, kesabarannya sangat membuatku bangga memiliki seorang Bapak seperti beliau, Bapak tidak pernah menampakkan sakit nya di depan orang-orang yang datang menjenguk nya, kadang-kadang ketika orang pergi tidak jarang ku dengar isak tangis Bapak di dalam kamar di samping Ibu ku, Aku kadang- kadang bertanya “Mengapa Bapak begitu menderita??”. Bapak hanya mengatakan itu sudah bagian takdir Tuhan untuk diri nya, dan harus di terima dengan sabar. Satu hal yang selalu ku ingat , di dekat Bapak selalu ada Radio, Hp, yang menemani nya, Bapak selalu mendengar pengajian-pengajian,Lantunan-lantunan sang Qori’ yang membaca ayat-ayat Al-Qur’an, suara nyaring sang Qori’ membuatku selalu rindu Bapak, bila mengingatnya,, Betapa ingin rasa nya Bapak bisa mengaji dan berdiri untuk salat lagi. Beliau hnya bisa duduk dan memintaku membaca ayat-ayat Al-Qur’an untuknya. Hari-hari ku lalui, Dan Bapak tidak kunjung-kunjung sembuh..
Senin, 26-06-2012 ….
Pagi itu, hari senin. Aku buru-buru berangkat kuliah. Karena Aku takut telat, Aku tidak menghiraukan Bapak yang duduk di tempat biasa. Bapak memandangku, Bapak belum sarapan. Karena Aku pikir Kak ipar yang sedang mempersiapkan sarapan Bapak di dapur, Aku langsung pergi, ku dengar sayup-sayup Bapak memanggil, Tapi Aku tidak terlalu memperhatikan …
Beberapa jam lamanya , waktu menunjukkan kurang lebih jam 11 siang, Aku pulang dari kampus , Aku melihat Bapak duduk di tempat biasa, merenung seperti biasa. Aku masuk kamar tanpa mempedulikan Bapak, Capek sekali rasanya, Aku berbaring di kasur dengan mata terbuka, ada perasaan yang tidak menentu yang ku rasakan bergejolak di hati ku. Debaran-debaran itu begitu terasa dan kuat. Tiba-tiba teman ku datang dan masuk ke kamar, kami bercakap-cakap sebentar, dan temanku lalu pulang. Aku kembali berbaring, Aku melihat sepintas dari celah pintu kamar, Ibu bersama kakak sedang membantu Bapak berjalan ke kamar mandi, Aku melanjut kan tidur sambil mendengarkan lagu. Tetapi perasaan berdebar di hati terasa nyata dan mengganggu. Aku keluar kamar, Aku melihat Ibu duduk disamping Bapak yang juga duduk ber alas kan bantal di belakang punggungnya. Kelihatannya Bapak baru selesai makan. Aku masuk kamar lagi.
Sedang asyiknya Aku membaca novel , Aku mendengar Ibu memanggil Bapak berulang-ulang..
Aku keluar kamar, Melihat Ibu masih berusaha membangunkan Bapak yang tertidur dengan posisi masih setengah duduk, dengan kepala Bapak beralas bantal , Ibu bermaksud membangun kan Bapak untuk memperbaiki posisi tidur beliau.
“ Bapak..? Pakkk?? Bangun dulu.. Capek nanti Bapak tidur dengan posisi seperti inii.. Bapak bangun dulu..?” Ibu memanggil beberapa kali sambil menyentuh bahu Bapak. Tetapi Bapak tidak juga bangun… Paman datang dan memegang tangan Bapak . Tidak lama Paman mengatakan Bapak sudah pergi …
Kami menangis,,
Bapak sudah pergi , Raut mukanya begitu tenang dan damai.. Beliau tidur nyenyak sekali untuk selama-lamanya….. Kami semua hanya bisa menangis.. Bapak pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan untuk kami…
Tuhan yang menciptakan .. Tuhan pula yang akan mengambil kembali…
Ku akhiri ketikanku dengan air mata yang rasanya akan mengering… Karena tidak henti-hentinya ku teteskan di sepanjang hariku … Atas rasa penyesalan yang begitu dalam ku rasakan..
Maafkan Aku ayah…. Dalam detik-detik terahir hidupmu.. Aku tidak berada di sampingmu …..
Ella Junyanti Abdi
Kamis, 21 september 2012